Scroll to top

Mengabdi, Belajar, dan Bertumbuh Bersama: KUKERTA 2026 di Desa Ngares, Dompyong, dan Botoputih

Home >Other >Mengabdi, Belajar, dan Bertumbuh Bersama: KUKERTA 2026 di Desa Ngares, Dompyong, dan Botoputih

Trenggalek - Januari 2026 menjadi bulan yang penuh makna bagi mahasiswa Semester 5 yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata Terpadu (KUKERTA) 2026. Di tengah masa liburan menuju Semester 6, para mahasiswa tidak memilih untuk beristirahat sepenuhnya. Sebaliknya, mereka melangkah ke tengah masyarakat, membawa semangat belajar yang berbeda - belajar dari kehidupan, dari pengalaman nyata, dan dari kebersamaan.

Selama satu bulan penuh, mahasiswa diterjunkan ke tiga desa mitra, yaitu Desa Ngares, Desa Dompyong, dan Desa Botoputih. Di desa-desa inilah mereka tidak hanya hadir sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai sahabat, pendamping, sekaligus bagian dari masyarakat. Hari-hari mereka dimulai dengan menyapa warga, berdiskusi dengan perangkat desa, mendengarkan cerita para orang tua, hingga bercengkerama dengan anak-anak di sekolah dan lingkungan sekitar. Setiap pertemuan menjadi ruang belajar yang hidup. Mahasiswa belajar memahami karakter masyarakat, menggali potensi desa, sekaligus memetakan tantangan yang ada.

Program kerja yang dilaksanakan pun dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Di bidang pendidikan, mahasiswa mengadakan pendampingan belajar, literasi, serta berbagai kegiatan kreatif untuk meningkatkan motivasi anak-anak. Di bidang sosial dan pemberdayaan, mereka turut membantu administrasi desa, menginisiasi kegiatan penguatan UMKM, serta terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan lainnya. Kolaborasi yang terbangun bukan sekadar formalitas, melainkan hubungan yang dilandasi rasa saling percaya dan semangat gotong royong.

Lebih dari sekadar menjalankan program, KUKERTA 2026 menjadi ruang transformasi. Mahasiswa belajar tentang arti tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama tim, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara nyata. Mereka menghadapi dinamika lapangan, menyesuaikan rencana dengan kondisi riil, serta belajar untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat pun menyambut dengan hangat kehadiran mahasiswa. Interaksi yang terjalin selama satu bulan melahirkan kedekatan emosional yang tidak mudah dilupakan. Tawa anak-anak saat kegiatan belajar, diskusi hangat bersama perangkat desa, hingga kebersamaan dalam kegiatan sosial menjadi kenangan yang membekas.

KUKERTA 2026 bukan sekadar agenda akademik, melainkan perjalanan pengabdian dan pembelajaran yang membentuk karakter. Di Desa Ngares, Desa Dompyong, dan Desa Botoputih, mahasiswa menemukan bahwa ilmu tidak hanya tumbuh di ruang kelas, tetapi juga di tengah masyarakat - dalam dialog, dalam kerja nyata, dan dalam empati. Melalui kegiatan ini, perguruan tinggi kembali menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antara kampus dan desa diharapkan terus berlanjut, menghadirkan kebermanfaatan yang berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus membentuk generasi muda yang adaptif, peduli, dan siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

KUKERTA 2026 menjadi bukti bahwa ketika mahasiswa turun langsung ke masyarakat, yang terbangun bukan hanya program kerja - melainkan hubungan, pengalaman, dan pertumbuhan bersama.

 

SALAM PUDAYA

PROFESIONAL UNGGUL DAN BERBUDAYA